Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Technorati button
Reddit button
Myspace button
Linkedin button
Webonews button
Delicious button
Digg button
Flickr button
Stumbleupon button
Newsvine button

Wargapande.org

Warga Pande Bali Community

January - 15 - 2012

by : www.pandebaik.com

“Ide-ide briliant biasanya akan muncul saat detik-detik terakhir kegiatan…”
Demikian bunyi sebuah pesan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande, I Made Dego Suryantara beberapa hari lalu. Dan itu benar adanya.
Kami sendiri sebenarnya membayangkan bahwa apa yang akan kami laksanakan kali ini, kelak bisa berjalan dengan sederhana dan minimal mampu memberikan sedikit pengalaman tambahan dalam berorganisasi dan bersosialisasi dengan pesemetonan Warga Pande. Namun dalam kenyataannya malah lebih dari itu.

Semua usaha yang telah dilakukan oleh keluarga Besar Semeton Warga Pande Desa Ubung hingga pukul 01.00 dinihari tadi benar-benar membuat kejutan besar atas semua pengharapan kami sejak awal. Sedari sambutan, penyampaian hingga perwujudan semua ide dekorasi yang beberapa waktu lalu sebenarnya masih ragu kami pinta.

Tidak tanggung-tanggung. Dari beberapa daftar yang kami pesan saat pertemuan di hari Minggu malam, 8 Januari lalu di Pura Penataran Pande Ubung, dapat terwujud dengan baik dan hadir dengan banyak tambahan dekorasi lainnya. Bahkan beberapa Rencana tambahan untuk datang lebih pagi di hari Minggu pagi saat kegiatan akan dilangsungkan, rupanya bisa diselesaikan lebih awal meski harus menghabiskan waktu sejak pukul 10 malam hingga 01.00 dinihari.

Terlepas dari beberapa persiapan yang dilakukan oleh keluarga Besar Semeton Warga Pande Desa Ubung untuk mendekorasi ruangan gedung GOR Permata, yang patut diacungi pula dengan dua jempol adalah persiapan yang dilakukan oleh Panitia Dharmawecana sejak awal pembentukan. Baik itu untuk urusan Konsumsi, hal paling vital yang ditangani langsung oleh saudara PiP Ariadi, hingga penggalian dana yang dilakukan Bli Wayan Ande Tamanbali secara door to door di seputaran Gianyar secara intensif.

Semangat ngayah yang dilakukan dua Semeton pande ini tentu saja membuat semangat semeton lainnya makin bertambah untuk habis-habisan melaksanakan persiapan Dharmawecana kedua kali ini. Katakan saja Semeton Yowana Kabupaten Tabanan yang tak kenal lelah datang jauh-jauh untuk menghadiri Rapat Koordinasi secara intens ke Kota Denpasar hingga larut malam, atau Teruni Pande yang selalu mendatangkan angin segar bagi para Terunanya dalam setiap prosesi kegiatan. Satu pola yang kemudian kami harapkan mampu bertahan hingga kami semua berkeluarga nanti.

Share
December - 26 - 2011

Ide untuk menyalin kembali Buku Pracasti Pande yang disusun semeton bli bagus Gede Saptha Yasa sebetulnya datang saat melihat halaman web WargaPanDe.org yang mulai lama terbengkalai akibat minimnya informasi yang dapat disampaikan. Rencana awalnya, isi keseluruhan buku akan di-scan dan disalin ulang kemudian dipublikasi satu persatu  agar secara content isi web tersebut dapat secara berkala ter-Update.

Buku Pracasti Pande yang kemudian saya dapatkan dari tangan Jero Mangku Wija dari Peraupan ini rupanya merupakan babad atau cerita yang mengisahkan semeton Pande Bratan meski dalam beberapa bagian sempat pula mengisahkan cerita turunnya Bhisama Pande di Pura Indrakila.

Sayangnya sebenarnya ada sebelas bagian yang mampu saya pecah dan publikasikan satu persatu namun mengingat bagian terakhir isinya cukup panjang, maka dengan terpaksa saya pending terlebih dahulu untuk memberi kesempatan tulisan lain hadir lantaran secara waktu dan kepentingannya sudah cukup mendesak.

Namun seperti Janji yang sudah saya sampaikan beberapa waktu lalu bahwa ketika buku ini selesai disalin ulang, kelak akan dipublikasikan dalam format digital untuk memudahkan Semeton lain menyimpan dan membacanya dimanapun berada. Itu sebabnya salah satu tujuan awal salin ulang buku ini adalah untuk menyebarluaskan pustaka yang ada kaitannya dengan Dharma Kepandean, dengan harapan semeton kami yang berada diluar Bali dapat pula menikmati ilmu yang sama dengan yang kami miliki.

Untuk itu, bagi semeton yang ingin mendapatkan Buku Pracasti Pande seperti yang telah kami sajikan bagian per bagian, silahkan mengunduhnya dari alamat berikut. Besar harapan kami, agar buku tersebut dapat disebarluaskan tanpa maksud komersial, untuk menghormati jasa besar bli Gede Saptha Yasa yang sudah bersusah payah menyalinnya sejak awal.

Download Buku Pracasti Pande (Beratan)

Terima Kasih, dan Semoga Buku yang berkaitan dengan Pande berikutnya bisa dengan segera disebarluaskan pula.

Denpasar, Desember 2011 – PanDe Baik

 

Share
December - 22 - 2011

28. Ngayab tjaru kepada pitara, “Om bhukyantu pitaro dewa, bhukyantu  pitaro ganam, bhukyantu  phalayanggoyam, ciwatatwa parayanam, ciwa sapurna ya namah swaha”

29. Mapralina (menempatkan dalam alam suci), “Om ksang kseng ksong ya namah swaha. Om kasmung bhyoma ciwa pitaro dewa ya namah sukastha ya namah swaha, Om kasmung bhyoma ciwa pitaro criya namah swaha. Om uang ang mang namah swaha”

30. Mantram tarpana amuktyang sadji sang pitara (mempersembahkan sadji kepada leluhur), “Om pitara bhyah swaha, om pitrama hebhyah swaha, om mahatmane bhyah swaha. Om pitaro dewa, pitaro ganam, pitaro sarwa ya namah swaha, sarwamrta hitangkaram, sarwa bhoga sekul ikang suruh wangi bhukyantu sarwa ya namah swaha. Om sukam bhawantu qriyam bhuwantu, suka criya dharma sartana” Perciki tirta empat kali dengan melanjutkan mantram “Om pang padya ya namah, om ang argya ya namah, om hayu widdhi, widdhi prajna suka criya dharma santara, Om widdhica santuste sapta hrdaya, yawat mero sthita dewa, yawat gangga mahitale, candra, reka gagane tawat, tawatwa wijaya bhawet. Om dirghayur shiddir astu tat astu, astu ya namah ciwa ya. Angkare dhayrta sirudam angkarena widarbhitam tarpanam sarwa pujanam prasiddhantu susi ddhidam nama swaha”

31. Memuja. Cara memuja kepada segala yang patut dipuja. Lebih dahulu melakukan sikap “amusti” (menggenggam  kedua tangan didada, mata melihat ujung hidung dan terus kedua ujung ibu jari yang telah dipertemukan di dada).  Bathin diterangkan seterang-terangnya bagai orang tidur, jalan nafas diatur keluar masuknya dengan perlahan-lahan, lalu mengucapkan mantram rajapinulah, yaitu “Om papa tankayana, tapa tahinugah, mahatma mahajamma tapa tahinugah, matemahan guru, guru tapa tahinugah matemahan sang hyang Wisesa, wenang angungkuh awakku tan kaungkulan, om ciwa ya namah swaha”

32. Membersihkan tangan seraya memegang bunga, bersihkan (sadsadin) tangan  kanan dengan bunga itu,  “Om Ciwa cuddha mam nama swaha” Berslhkan tangan kiri “Om  ati cuddha mam nama swaha” Lalu gerakkan perasaan meuntun sekalian buta yang ada dalam hati dibawa dan ditempatkan diantara kening, bersatu dengan manusa cakti (jiwatma) dan tuntun sekallan dewa yang ada diubun-ubun dibawa dan ditempatkan diantara kenlng juga, bersatu dengan manusa caktl juga “Om mang ang siddhi labda jaana, ang sthiti, ong pralina, ah utpatti”

33. Duduk yang baik, “Om amantasana, padmaa ana prasthita ya namah, om mang ang nama Ciwa ya, nama Rudra ya, ciwa cangkara ya nama swaha, Icana ya dhipataye cri Pacupataye namah om ung anantasana ya namah, om ang padmasana ya namah, om mang dewa prasthista ya namah”

34. Upacara badjra gharta. Ujung badjra lima buah isi bunga, “Om ri graneng tengen, wigreneng kiwa, ne ri greneng wuri, mang greneng harap, bra ri greneng madya, sang greneng tengen, ru greneng kiwa, ya ri pukuh harap, sang pukuh wuni, ciwa makakatik bajra, ya namah swaha”

35. Bunyikan Ghenta, “Om ksama swa mam Mahadewah, sarwa prani hitangkarah, mamoccha sarwa papebyah, yaya gwaja jana janah. Om hrang hring sah parama ciwadhitya ya namah. Om kasmung cri hiyawa simanah. Om hrang hring sah parama ciwadhitya ya namah. Om ang gangga Parama-Ciwa cunyatmane namah, om ang Saraswati Sada ciwa niskalatmane namah. Om ang Sindu Sada Rudra adhyatmane namah, om sang Wipaca Mahadewa niratmane namah, om ang Kosiki Icwara paramatmane  namah, om sang yamuna Wisnu antaratmane namah, om ang Sarayu Brahma atmane namah”

36. Ghenta diperciki tirta dengan bunga (tunjung), “Om Janardhana maha wira, nadi tirtha nugrah, Narmada rabdanggopati, puspa wisnawa nadi sarwa puspa pramucyate. Gangga saraswati namaste, sarwa dewa sarwa tirta Janardhanah. Om tirta kamandalu winadahan kundi manik, sira ta pinaka huriping prethiwi apah tiga bayu akasa, sira ta huriping dewata nawa sanga, om namo namah swaha” Ini bernama “Penglukatan tirta gamana”

37. dan Pabresihan, “Om ciwa nirmala ganggoyam, ciwa tirta pranate nityam, sariccaya namo tusti niwedyam, garupi capi amrta tanggrahi kanasta suntala bhakta, sakalam apnuyat, dosa wirasa ya sarwa rogha winaca ya. Ang mang om om” Lalu memerciki diri sendiri.

38. Memuja Surya, “Om istam bame rupa riwarta namaste natram, ya baje karaya gara windhu carana namo namaste diwya mrttti Paramecwaram bhaskaranam, iyoti carirat siktayana, bhuh sapta loke bhuwana traya, sarwa netram adhitya dewa ya name namaste, kala ya kastara wimbakara bhakta pamurthi panembah ya nama swaha”

39. Linggihaneka ring ciwadwara (tempatkan diubun-ubun), “Om linang lingga ya namah, om parama ciwa lingga ya namah, om Sada Ciwa lingga ya namah, om ciwa lingga ya namah”

40. Sumpangana ring gelung (masukkan bunga dirambut), “Om sapa nirbanam anda dewata laksanam, roha dewata dewatan, sarwa kleca winacanam”

41. Ngaturaken pancopara (menghaturkan upacara lima macam yaitu beras kuning, cendana wangi, bunga, api dan dupa), “Om gandhum, ksatam, puspa agnir jyotir jyotir dhupam samar payami”

42. Menyembah, “Om sang bang tang ang ing nang mang cing wang yang, ang ung mang, ang ah”

43. Mabhasma diantara kening, dibawah telinga, kanan kiri, dileher, dibahu kanan kiri dan diujung punggung atas, “Om bhasmam cuddah nariguhyam sarwasana kalucanan pawitnam papa winacanam”

44. Makawista, mengaitkan alang-alang dikepala tepat dilalata (dahi), “Om suruh hitam Mahadewam kaca nityam tigramantam Sada ciwa namostute.” Terus menyembah, “Om caryang wirang.” -3 x-

45. Mengucapkan pranamya, “Om pranamya bhaskara dewam, sarwa kleca winacanam, pranamya adhitya cewanam, bhukti mukti sarwa pranam. Om gangga Saraswati Sindhu wipaca nadi, Om gangga Sindhu Saraswati yamuna Godawari Narwada Kaweri Sarayu namah dadi, Carmanwati wenukam, Bhadra Netrawati, mahanadi dinuwara, ti papa dana tirta, tatacca gandha niccaya purneng klecam, murdam sarwa namo manggalam, namostu wara purnam yantu parama purnam, namaste Paramecwaram, laradweca ya maranam, namaste Mahecwaram, yowa dewaca yuti, sapramrta namostute, dirangkayat kleca harijyeti namo namah, samadhi yaco dewi namaste malya waranam, jambu cangko Mahadewam, dewa dewi niyoganam, meru pradaksina grtam kecana karna prilam, parwata Icwara cubham. Ongkara ksayanam manggalam, pamunah dosa ya, wus namastu nastu namo namah”

46. Pasolsolan ayam itik, “Om sang garudha patih anucuk lara wighnane sang kinaryan kaprateka ya nama swaha. Om sang garudha anucuk sebel kandele ri sukune sang kinaryan, sang bang tang ang ing”

 

Share
December - 18 - 2011

13. Cara membuat tirta pangentas yang singkat.

Air didalam periuk yang telah berisi bunga dan bija kuning, diberi mantram”Om mangang.” Periuk diputar ider kiwa tengen dengan mantram “Om parama amrta ya namah”

Selanjutnya melakukan yoga seraya mengumpulkan 4 orang saudara yang berbadan halus yaitu  Anggapati, Mrajapati, Bhanaspati dan Bhanaspatiraja. Si Mrajapati berikan ia tirta dari ubun-ubun serta suaranya ‘ah’. Setelah itu suruh ia mengantar roh orang meninggal itu kesorga, bertemu dengan seluruh kawitannya.

14. Cara membuat tirta pangentas yang lebih panjang, dengan maksud bila rohnya menjelma kelak akan menjadi orang baik-baik.

  • Mula-mula disediakan 1 peripih emas yaltu lembaran kertas mas yang sengaja dibuat untuk itu, lebarnva ± 1 cm, panjangnya ± 2cm, ditulisi (rajah) Daca Bayu. Lain dari itu disediakan pula 1 kalpika mirah yang balk, 1 atau 2 buah padi dan sebentuk cincin bermata mirah baik. Leher periuk diikat dengan 12 lilitan. Lebih dahulu periuk diasapi dengan asap pedupaan, mulutnya menghadap turun dan ucapkan mantram  “Om Akaca tatwa ya namah,”
  • setelah itu hadapkan keatas dan ucapkan matram“Om prthiwi tatwa ya namah.”
  • Lalu bersihkan Periuk itu dengan air dan ucapkan mantram “Om Om rah phat astra ya namah.”
  • Asapi Periuk dengan mantram “Om mang Icwara ya namah.”
  • Lalu Periuk ditutupi dengan tangan “Om Hrung kawaca ya namah,”
  • Kemudian diisi air “Om hrang hring sah wosat parama Ciwa gangga amrta supaga waya nama swaha.”
  • Peripih Mas, Kalpika Mirah dan Podi masuk kedalam air “Om Om Atma tatwatma Cudhamam Cwaha”
  • Masukkan Cincin Mirah kedalam air “Sang bang tang ang ing nang mang Cing wangyang, ang ung mang, Om”
  • Masukkan kedalam air alang-alang sehet mingmang yang sejengkal panjangnya “Om Prabhawa Kuca suksema ya namah swaha.”
  • Masukkan pula alang-alang dan rumput lepas (padang lepas) 33, 66 atau 108 batang, dengan  mantram “Om ang predhana purusa sang yoga windhu dewa Ya bhoktra jagatnatha pitare sarwa ya namah swaha”.

15. Lalu memberikan Caru “O dewa pitare sarwe, pariwara gune sayah, harsayah sarwa bhutaam, tat pujyante ya to sukam. “ dan “Om Srapat bhyo namah cwaha, om carik kasacarik bhyo namah swaha, om sarwa karya prasiddha swaha”

16. Menuju pitara, “Om swargantu pitaro dewa, swargantu pitaro ganam, swargantu pitaro swaha ya namah swaha, om om ang mang namah swaha’

17. Memercikkan Tirta, “Om Ciwa wimala ganggo yam, Ciwa tatwa parayanam, om purna ya namah swaha”

18. Mralina (menempatkan di alam nirwana) sang pitara, “Om ksang ksang kseng kseng ksong ya namah swaha, Om kasmung bhyoma ciwa pitaro ganam ya namah swaha, Om kasmung bhyoma ciwa cri swarga ya namah swaha”

19. Dudukkan (linggihang) dewa pitara di meru sanga kidul (selatan). Pande Bratan boleh berhulu Kidul, karena Bhatara Brahma tetap langgeng bertempat (melinggih) di Kidul, “Om pitaro maha bhyo namah swaha, buyut lanang wadon”

20. Teruskan dengan Mantram Catur Weda, “Om namowah pitaro dewa ya namah swaha” Hulu, “Om namowah pitaro ganam ya namah swaha” Rahi, “Om namowah pitaro ya namah swaha” Herddhi, “Om namowah pitaro sarwa ya namah swaha, suksma ya namah swaha Icwarangga”

21. Mantram Kara Coddana (penyuci tangan) kepada pitara, “Om cudda mam swaha” (untuk tangan kanan) “Om ati cudda  mam swaha” (untuk tangan kiri).

22. Mantram padyarga (pembersihan kaki, berkumur, meraup muka), “Om pang padyaya namah, om ang argya namah, om yang jihwa ya namah, om cang camani ya namah”

23. Mantram menyapa pitara, “Om bhagyantu pitaro dewa, bhagyantu pitaro ganam, bhagyantu pitaro sarwa ya namah swaha. Om psyantu pitaro dewa, pisyantu pitaro ganam, pisyantu pitaro sarwa ya namah swaha”

24. Mantram ahyas (mengaturi berhias), “Om ahyastu pitaro dewa, ahyastu pitaro ganam, ahyastu pitaro  sarwa ya namah swaha. Om toyantu pitaro dewa, toyantu pitaro ganam, toyantu pitaro sarwa ya namah swaha. Om lepyantu pitaro dewa, lepyantu pitaro ganam, lepyantu pitaro sarwa ya namah swaha. Om puspantu pitaro dewa, puspantu pitaro ganam, puspantu pitaro sarwa ya namah swaha”

25. Mantram pratista (mengaturi malinggih), “Om prastitantu pitaro dewa, prastitantu pitaro ganam, prastitantu pitaro sarwa ya namah swaha. Om treptyantu pitaro dewa, treptyantu pitaro ganam, treptyantu pitaro sarwa ya namah swaha”

26. Memuja pitara, “Om ahyantu pitaro dewa, ahyantu pitaro mahe, ahyantusa hi mam pujam iyastane iyastune. Om sutnikah sapadah saganah, iyastane iyastune, prastitosi namah swaha. Om swasta cwanasta pujata, trise wayah pita pitama haccewa, tatacca prapitamaha.

Om mata mata mata maha, japyam pratita maya sanjakah, pitaro tarpanayanta. Om ciwamapi rupam pitra ganam hitarpanam, trinayana kawra sahalko kasang rakalam, atmaja patalamakam wiswasangraksa kartwam, bhuwana prajam akantam, brahma rupa namami. Nama pitra watsalaya, sarwa wira phala kaya, sidhi prayahaya namah swaha”

27. Mantram niwedya (mengaturkan sadji kepada Tuhan), “Om ciwa nirmalam suryam, ciwa tatwa parayanam, sisya pranaho nityam, saniscaya namostute, Om ciwa newedya Baruna nami, amrtatma grani swa namah swaha”

Share
December - 14 - 2011

Selanjutnya dinasehatkan kepada turunan Warga Pande yang akan betul-betul melakukan Dharma Kepandean, yaitu:

1. Yoga kepandaian.

Setiap hari harus melakukan yoga tiga kali, pagi, sore dan malam, dengan ucapan mantram  “Ang, Ang, Ang, Ang, Ang, Ang, Ang, Ang, Ang.“ Dalam mengucapkan mantram itu, umpamakan api keluar dari bahbahan Sanga (jalan 9 yakni 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 2 lubang telinga, 1 lubang mulut, 1 lubang kemaluan dan 1 lubang pantat), memenuhi dunia dan membakar semua musuh di dunia.

Setelah hangus lalu lanjutkanlah dengan air badan, mantram “Ung, Ung, Ung, Ung, Ung, Ung, Ung, Ung, Ung.” Air itu diumpamakan keluar dari seluruh sendi badan lalu menghidupkan kembali musuh seraya datang kepadamu dengan sujud memberl Amerta. “Om, ung, ang, amerta ya namah.”

Demikian pelaksanaan yoga itu, jika membuat senjata tajam akan menpunyai tuah yang sangat Sakti.

2. Mantram Agni “Ang, Ang, agni pralaya namah”

3. Mantram Palu “Om krta caraya namah”

4. Mantram Supit “Om mari mare caraya namah”

5. Mantram Culik “Om tatagni rudra ya namah”

6. Mantram Gandu “Om pageh pawu tuhan lepe caraya namah”

7. Mantram Penangges “Om surat-surit guna wenang ya namah”

8. Mantram Kikir “Om sang kertadnyana sarwala kani guna wisesa agya namah”

9. Mantram Gurinda “Om rattaya pada wani wesi ya tata lungguh pracura praguna amorya namah”

10. Mantram menghidupkan garam dan air dihadapan api “Om Om cara guna agni rudra yacara guna wisesa atemahana dandha, dhupa, mucala, bajera, cakra atmane namah, prakrti urip amepeki karasika tri guna, ang ung mang pasupati patya namah”

11. Ini anugerah dari Majapahit, sebagai suatu alat untuk pula ke Batur Kamulan “Ang ong ung mang ung tang trang ah ang rang”

12. Inti ajaran Pustaka Bang, pemberian Bhatara Brahmana terhadap Ki Pande Bratan. Barang siapa telah dapat memahami pelaksanaan ajaran itu dalam praktek sehari-hari dan telah  menjadi seorang pendeta, ia boleh menyelesaikan segala pekerjaan yadnya Pande Bratan. Pendeta Ciwa dan Buddha pun bila belum mengetahui keluarmasuknya ajaran itu, tidak boleh menyelesaikan yadnya Ki Pande Bratan.

Bila warga Pande Bratan meninggal, dalam melakukan pembakaran jenasahnya boleh memakai wadah tumpang 5 atau 7, boleh memakai balai pebasmian, patulangan lembu, memakai balai silunglung mapring masanur, boleh papanebasan sebesar harga 16.000.

 

Share