Soroh Pande : wargapande.org

Warga Pande Bali Community

December - 18 - 2010

BABAD PANDE

Empu Brahma Wisesa menurunkan Empu Saguna turut ke Bali bermukim di Gelgel, adiknya yang bernama Empu Lelumbang masih di Majapahit,
Diceriterakan sang raja dan patih Arya Kenceng , sudah beristri putri seorang Brahmana dan Empu Saguna, beristri anak-raja di Majapahit. Ketiga pasangan ini pergi ke Bali. Putra dan putri dari ketiga pasangan ini kemudian sama-sama menyebar di desa-desa di Bali.

Keturunan sang raja yang utama tetap menjadi raja. Keturunan patih menjadi patih dan keturunan Mpu Saguna melaksanakan pembangunan di bidang pembuatan sarana pembangunan yaitu benda-benda tajam.
Seterusnya mantra-mantra dalam pekerjaan pembuatan senjata.

BABAD PANDE WESI

Tersebut seorang Brahmana yang bernama Katepeng Reges bertempat di Wilatikta. Beliau mempunyai sembilan orang putra. Para Arya yang berada di Wilatikta itu adalah Arya Kenceng, Arya Beleteng, Arya Senteng, Sirarya Binculuk, Arya Kapakisan, Sirarya Kuta Waringin, Arya Belog dan Sirarya Watang. Kemudian Sirarya Kenceng diangkat menjadi patih oleh Sang Prabu beserta sanak keluarganya.
Kemudian ada putranya yang bernama Mpu Brahmawisesa bersaudara dengan Mpu Siwa Saguna datang ke daerah Bangsul. Adik dari Sang Prabu Wilatikta bernama Mpu Gandring.
Sesampainya di Bangsul, sira Mpu Siwa Saguna menuju Desa Tusan, Selama tujuh tahun di Gelgel beliau tidak mempunyai putra karena diganggu oleh Bhuta Wawangsilan. Yang mana putra dari Sirarya Kenceng dulunya dapat dimakan oleh Bhuta Wawangsilan, Putra Ida Sang Prabu dicuri oleh Sang Bhuta dan dihaturkan kepada Sang Kasuhun Kidul. Sesampainya bayi tersebut dirajah lidahnya lalu dikembalikannya.
Kemudian Sirarya Beleteng dari desa Punduk, ada beberapa putranya turunan nya seperti putranya di Bungaya, di Tulikup, di daerah Kapal, Tambahan, di Kaba-Kaba, di Kalianget dan ada juga di Sidemen. Penyebarannya ini untuk memperluas keturunannya. Putra dari Sirarya Kapandeyan bernama Lurah Kapandeyan. Suatu ketika Ida Sang Prabu bersama I Anglurah Kapandeyan bertapa. Sirarya Kapandeyan membuat senjata-senjata seperti keris, tumbak. Sang Prabu membagikan daerah persawahan kepada putranya Sirarya Kenceng di seluruh daerah Bali. Anak dari Arya Kapandeyan bertempat di Tusan adalah dua orang laki. Putra para Arya di Bali adalah Arya Kenceng berputra tujuh orang. Arya Tangkas berputra delapan orang, Kuda Pangasih dua orang.
Ajaran-ajaran Mpu Pradah mengenai kedyatmikaan baik black magic maupun white magic.
[Kembali ke atas]

Kemudian Sang Raja-putra bersabda dengan Sang Pande Aji Sakti. Sang Pande hendaknya melaksanakan Dharma ka-pande-an di dalam membuat alat atau pun senjata-senjata. Mengenai mantra-mantra pemujaan.
Mantra caru, mantra penyucian bwana alit dan mantra mohon maaf.
Terjadinya Pande diceriterakan bahwa penjelmaan dari Brahma menjadi Mpu Pradah, dan Mpu Pradah menjadi Pande.
Alat-alat yang akan dipergunakan untuk bekerja seperti palu, kikir, jepit dan sebagainya agar diberi mantra.