Soroh Pande : wargapande.org

Warga Pande Bali Community

December - 17 - 2010

SEJARAH HINDU ( LEGENDA HINDU )

LINGGA
Pada akhir masa penghancuran, Brahma dan Wisnu terlibat dalam sebuah pertengkaran, tiba-tiba muncul benda bersinar yang menjulang keatas. Pertengkaran berhenti, Brahma dan Wisnu sepakat untuk memeriksa benda tersebut. Brahma mengambil wujud seekor angsa terbang memeriksa ke atas mencari puncak, Wisnu mengambil wujud babi hutan memeriksa kebawah mencari pangkal.
Akhir mereka tidak menemukan ujung dari benda tersebut. Mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan sesuatu yang lebih Agung dari mereka, lalu mereka menyembah benda tersebut. Dan Siwa menampakan diri serta mengatakan bahwa benda tersebut adalah Lingga wujud asli dari seluruh alam semesta.Pada saat itu juga dirunkan gayatri matram.

RSI AGASTYA DAN GUNUNG VINDHYA
Gunung vindhya pada awalnya adalah gunung tertinggi didunia, demikian tingginya sehingga menghalangi jalannya matahari. Rsi Narada pergi ke gunung vindhya dan mengatakan bahwa gunung mahameru adalah gunung yang suci dan unggul. Karena itu gunung vindhya meninggikan puncaknya sehingga menembus langit dan menghalangi jalannya matahari.
Matahari akhirnya mohon kepada Rsi Agastya untuk memecahkan masalah tersebut. Kemudian Rsi Agastya merubah wujudnya menjadi seorang yang tua renta mendaki gunung Vindhya. Beliau berkata : ”Aku akan mengunjungi sebuah tirtha di balik gunung vindhya, namun karena kamu terlalu tinggi Aku tidak dapat mendakimu, tolong turunkan puncakmu, bantulah orang tua ini. Aku akan mandi di tirtha itu dan jangan tinggikan puncakmu sebelum aku kembali. Jika kamu tidak menuruti kata-kataku, aku akan mengutukmu”.
Karena takut akan kutukan itu gunung Vindhya merendahkan puncaknya. Dan Rsi Agastya tidak pernah kembali melewati gunung vindhya.

DHRUVA (BINTANG KUTUB)
Svayambhuva Manu memiliki seorang putra bernama Uttanapada. Uttanapada memiliki dua orang istri. Istri pertama bernama Suruci dan istri kedua bernama Suniti. Suniti memiliki putra bernama Dhruva.
Suatu hari Dhruva duduk dipangkuan Uttanapada, hal itu dilihat oleh Suruci, suruci menjadi marah, dan meminta Dhruva segera turun, karena hanya putranyalah yang berhak duduk dipangkuan raja.
Dhruva menangis dan mengadu kepada ibunya, ibunya menyuruh Dhruva untuk melakukan tapasya.
Dhruva pergi ke pertapaan Rsi Vivamitra dan mengadukan permasalahan yang menimpanya. Rsi Visvamitra menyuruh Dhruva untuk memuja Visnu.
Setelah melakukan tapasya yang berat akhirnya Visnu muncul dan berkata : ”anugrah apa yang engkau inginkan ”
Dhruva : ” hamba ingin mencapai kedudukan tertinggi”
Visnu : ”diamlah dilangit, semua bintang akan mengelilingimu”

RSI MARKANDYA
Pada saat pralaya, bumi delimuti oleh kegelapan, hujan meteor menyebabkan bumi terbakar, semua mahluk hidup terpanggang api. Ada seorang Rsi yang sedang melaksanakan tapasya, bernama Rsi Markandeya. Kekuatan tapanya menyebabkan beliau tidak tersenuth oleh api. Rsi Markandeya kemudian melihat ada pohon beringin yang juga tidak terbakar, beliau kemudian melanjutkan tapasyanya disana dan memuja Visnu.
Kekuatan tapasyanya menyebakan hujan turun dengan lebatnya. Banjir dimana-mana.
Tiba-tiba beliau melihat pohon beringin itu mengapung dan disalah satu dahannya ada ranjang keemasan dengan seorang anak kecil yang kemudian berkata :”kau sedang mencari perlindungan, masuklah ke tubuhKu”
Karena bingung Rsi Markandeya memasuki tubuh anak kecil itu melalui mulunya. Disana beliau melihat seluruh alam semesta.
Setelah banjir reda Beliau keluar dari mulut anak kecil. Dan anak kecil utu berubah menjadi Visnu.

MATSYA AVATAR
Manu Vaisvata melakukan tapa yang sangat berat, di gunung Malaya, setelah ribuan tahun melakukan tapa, akhirnya Brahma berkenan muncul dan memberikan anugrah.
”Hamba hanya minta satu anugrah, berikalah hamba anugrah agar hamb bisa menyelamatkan manusia dan dunia dari kehancuran” pintanya.
Beberapa hari kemudian setelah menerima anugrah tersebut, Vaisvata membasuh mukanya dikolam dekat pertapaan, saat mengangkat tangannya dari air, ia menemukan seekor ikan kecil dalam tangannya. Ia kemudian menaruh ikan tersebut dalam tempat air.
Ikan tersebut cepat besar, seraya berkata ”Lindungilah aku, tempat air ini terlalu sempit bagiku.”
Manu kemudian menempatkan ikan tersebut dalam tong besar, tetapi ikan itu tumbuh dengan cepat. Kemudian ditaruh dalam kolam, lalu dipindahkan ke sungai Gangga, dan akhirnya dilepaskan ditengah samudra. Segera saja ikan itu memenuhi samudra.
Manu penasaran dengan kejadian ini, segera menanyakan kepada ikan tersebut ” Siapakah engkau, aku tidak pernah melihat keanehan seperti, Engkau tentunya Dewa Vinsu itu sendiri, beritahukanlah hamba ”
Visnu lalu muncul dan mengatakan bahwa bumi akan segera mengalami banjar besar, para dewa telah membuat perahu untuk menyelamatkan umat manusia. Saat banjir tiba Manu menempatkan semua mahluk hidup dalam perahu, serta mengikatkan perahu pada tanduk sang ikan, talinya adalah para naga. Ketika banjir telah surut Manu menempati bumi kembali dan memimpin umat manusia.

PERMATA
Pada jaman dahulu hiduplah seorang asura bernama Balasura. Ia berhasil mengalahkan Dewa Indra dan semua dewa, sehingga ia menjadi tak terkalahkan di jagat raya. Meskipun demikian ia adalah asura yang sangat dermawan.
Karena situasi seperti ini, maka para dewa melakukan yajna yang sangat hebat. Serta mohon kepada balasura untuk mau menjadi kurban dalam yajna tersebut. Balasura bersedia, dan para dewa menjemput Balasura dengan kereta angkasa (wimana).
Kereta melaju dengan sangat kencang, karena suatu hal Balasura terjatuh, sehingga tubuhnya hancur berkeping-keping. Karena kedermawanannya maka setiap potongan tubuhnya menjadi permata.
Intan terbuat dari tulang balasura. Mutiara bisa ditemukan di delapan binatang, gajah, babi hutan, kerang, ikan, ular, tiram dan bambu. Mutiara terbentuk dari gigi Balasura yang jatuh dan dimakan oleh binatang tersebut diatas.
Ruby terbentuk oleh darah Balasura yang jatuh kesungai dan menyebar keselurh alam semesta.
Jamrud terbuat dari empedu Balasura. Mata Balasura yang jatuh menjadi sapphire.
Sebelum meninggal Balasura menjerit sangat keras dan dari jeritan itu menimbulkan permata yang dinamakan vidura karena hanya terdapat di pegunungan vaidura.
Topaz berasal dari kulit balasura. Sedangkan kristal terbuat dari kuku Balasura.

 

WARGA BALI

Keunikan Bali yang lain bisa dilihat lewat bagaimana manusia Bali melakukan pembinaan kekerabatan secara lahir dan batin. Manusia Bali begitu taat untuk tetap ingat dengan asal muasal darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian melahirkan berbagai golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa atau soroh. Begitu banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki tempat pemujaan keluarga secara tersendiri.

Tatanan masyarakat berdasarkan soroh ini begitu kuat menyelimuti aktivitas kehidupan manusia Bali. Mereka tetap mempertahankan untuk melestarikan silsilah yang mereka miliki. Mereka dengan seksama dan teliti tetap menyimpan berbagai prasasti yang didalamnya berisi bagaimana silsilah sebuah keluarga Bali.

Beberapa soroh yang selama ini dikenal misalnya Warga Pande, Sangging, Bhujangga Wesnawa, Pasek, Dalem Tarukan, Tegeh Kori, Pulasari, Arya, Brahmana Wangsa, Bali Aga dan lainnya. Semuanya memiliki sejarah turun-temurun yang berbeda. Meski begitu, akhirnya mereka bertemu dalam siklus keturunan yang disebut Hyang Pasupati. Begitu unik dan menarik memahami kehidupan manusia Bali dalam kaitan mempertahankan garis leluhurnya tersebut. Sebagian kehidupan ritual mereka juga diabdikan untuk kepentingan pemujaan terhadap leluhur mereka

Identifikasi Orang Bali
Suku bangsa Bali merupakan kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran tersebut, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi serta perbedaan setempat. Agama Hindhu yang telah lama terintegrasikan ke dalam masyarakat Bali, dirasakan juga sebagai unsur yang memperkuat adanya kesadaran kesatuan tersebut.

Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa Hindhu di berbagai daerah di Bali dalam jaman Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat Bali, yaitu masyarakat Bali – Aga dan masyarakat Bali Majapahit.

Masyarakat Bali Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa – Hindhu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, pedawa, Tiga was, di Kabupaten Buleleng dan desa tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Orang Bali Majapahit yang pada umumnya diam didaerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali.

Pulau Bali yang luasnya 5808,8 Km2 dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga membentuk dataran yang agak sempit. di sebelah utara., dan dataran yang lebih besar disebelah selatan. Pegunungan tersebut yang sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba, mempunyai arti yang penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. di wilayah pegunungan itulah terletak Kuil-kuil (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru, dan yang terutama sekali Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung.

Sedangkan arah membujur dari gunung tersebut telah menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang Bali utara dan Orang Bali selatan. Dalam Bahasa Bali, kaja berarti ke gunung, dan kelod berarti ke laut. Untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan, sedangkan untuk orang Bali selatan kaja berarti utara. Sebaliknya kelod untuk orang Bali utara berarti utara, dan untuk orang bali selatan berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali, tapi juga dalam aspek kesenian dan juga sedikit aspek bahasa. Konsep kaja kelod itu nampak juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara agama, letak susunan bangunan-bangunan rumah kuil dan sebagainya.

Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya, maka bahsa Bali tak jauh berbeda dari bahsa Indonesia lainnya. Peninggalan prasasti zaman kuno menunjukkan adanya adanya suatu bahasa Bali kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno tersebut disamping banyak mengandung bahsa Sansekrta, pada masa kemudiannya juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit, ialah jaman waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal juga apa yang disebut “perbendaharaan kata-kata hormat”, walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (bahasa halus) dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi. Di Bali juga berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik dalam bentuik puisi maupun prosa. Disamping itu sampai saat ini di bali didapati juga sejumlah hasil kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) dalam bentuk prosa maupun puisi yang dibawa ke Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Sistem Kekerabatan Orang Bali
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat.

Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa), maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat dalam kasta. Demikian, perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen, sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih Kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. Keadaan ini memang menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen, yang pada umumnya bersifat exogam.

Orang-orang se-klen di Bali itu, adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama, dan demikian juga dalam kasta, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar kasta yang berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya, karena perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta menjatuhkan gengsi dari seluruh kasta dari anak wanita tersebut.

Dahulu, apabila ada perkawinan semacam itu, maka wanitannya akan dinyatakan keluar dari dadianya, dan secara fisik suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama, ketempat yang jauh dari tempat asalnya. Semenjak tahun 1951, hukuman sermacam itu tidak pernah dijalankan lagi, dan pada saat ini hukuman campuran semacam itu relatif lebih banyak dilaksanakan. Bentuk perkawinan lain yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (makedengan ngad), karena perkawinan yang demikian itu dianggap dapat mendatangkan bencana (panes). Pada umumnya, seorang pemuda Bali memperoleh seorang istri dengan dua cara, yaitu dengan meminang (memadik, ngidih) kepada keluarga gadis, atau denganacara melarikan seorang gadis (mrangkat,ngrorod). Kedua cara diatas berdasarkan adat.

Sesudah pernikahan, suami-istri yang baru biasanya menetap secara virilokal dikomplek perumahan dari orang tua suami, walauntidak sedikit suami istri yang menetap secara neolokal dengan mencari atau membangun rumah baru. Sebaliknya ada pula suami istri baru yang menetap secara uxorilokal dikomplek perumahan dari keluarga istri (nyeburin). Kalau suami istri menetap secara virilokal, maka anak-anak keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa), dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen tersebut. Sebaliknya, keturunan dari suami istri yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si istri, dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si istri adalah sebagai sentana(penerus keturunan).

Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami, sering ditambah dengan anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan orang lain yang menumpang, baik orang yang masih kerabat maupun orang yang bukan kerabat. Beberapa waktu kemudian terdapat anak laki-laki yang sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mampu untuk berdiri sendiri, memisahkan diri dari orang tua dan mendirikajn rumah tangga sendiri yang baru. Salah satu anak laki-laki biasanya tetap tinggal di komplek perumahan orang tua (ngerob), untuk nanti dapat membantu orang tua mereka kalau sudah tidak berdaya lagi dan untuk selanjutnya menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua.

Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas, dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Strutur tunggal dadia ini berbeda-beda di berbagai tempat di Bali. Di desa-desa pegunungan, orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal, tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. didesa-desa tanah datar, orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan mendirikan tempat pemujaan di masing-nasing kediamannya, yang disebut kemulan taksu.

Disamping itu, keluarga batih yang hidup neolokal masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap kuil asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka.Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya, dan dengan demikian pura/kuil tersebut mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritet anggota-anggota dari suatu klen kecil.

Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja kuil leluhur yang sama disebut kuil (pura) paibon atau panti. Dalam prakteknya, suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal-usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarga yang merasa dirinya senior, ialah keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen.

Sistem Kemasyarakatan Orang Bali

Banjar
Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan sosial itu diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara keagaman yang keramat. Didaerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya terbatas pada orang yang lahir di wilayah banjar tersebut. Sedangkan didaerah datar, sifat keanggotaannya tidak tertutup dan terbatas kepada orang-orang asli yang lahir di banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah lain dan kebetulan menetap di banjar bersangkutan dipersilakan untuk menjadi anggota(krama banjar) kalau yang bersangkutan menghendaki.

Pusat dari bale banjar adalah bale banjar, dimana warga banjar bertemu pada hari-hari yang tetap. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut kelian banjar. Ia dipilih dengan masa jabatab tertentu oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dari banjar sebagai suatu komuniti, tapi juga lapangan kehidupan keagamaan. Kecuali itu ia juga harus memecahkan masalah yang menyangkut adat. Kadang kelian banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan administrasi pemerintahan.

Subak
Subak di Bali seolah-olah lepas dari dari Banjar dan mempunyai kepala sendiri. Orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama dengan orang yang menjadi anggota banjar. Warga subak adalah pemilik atau para penggarap sawah yang yang menerima air irigasinya dari dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Sudah tentu tidak semua warga subak tadi hidup dalam suatu banjar. Sebaliknya ada seorang warga banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan mendapat air irigasi dari bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Dengan demikian warga banjar tersebtu akan menggabungkan diri dengan semua subak dimana ia mempunya sebidang sawah.

Sekaha
Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali, ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus, ialah sekaha. organisasi ini bersifat turun-temurun, tapi ada pula yang bersifat sementara. Ada sekaha yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenan dengan desa, misalnya sekaha baris (perkumpulan tari baris), sekaha teruna-teruni. Sekaha tersebut sifatnya permanen, tapi ada juga sekaha yang sifatnya sementara, yaitu sekaha yang didirikan berdasarkan atas suatu kebutuhan tertentu, misalnya sekaha memula (perkumpulan menanam), sekaha manyi (perkumpulan menuai), sekaha gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. sekaha-sekaha di atas biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi banjar maupun desa.

Gotong – Royong
Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat Bali dikenal sistem gotong royong (nguopin) yang meliputi lapangan-lapangan aktivitet di sawah (seperti menenem, menyiangi, panen dan sebagainya), sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainaya), dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga, atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. nguopin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib dibalas dengan bantuan tenaga juga. kecuali nguopin masih ada acara gotong royong antara sekaha dengan sekaha. Cara serupa ini disebut ngedeng (menarik). Misalnya suatu perkumpulan gamelan ditarik untuk ikut serta dalam menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. bentuk yang terakhir adalah kerja bhakti (ngayah) untuk keprluan agama,masyarakat maupun pemerintah.

——————————————————————————–

Kesatuan-kesatuan sosial di atas, biasanya mempunyai pemimpin dan mempunyai kitab-kitab peraturan tertulis yang disebut awig-awig atau sima. Pemimpin biasanya dipilih oleh warganya. Klen-klen juga mempunyai tokoh penghubung yang bertugas memelihara hubungan antara warga-warga klen, menjadi penasehat bagi para warga mengenai seluk beluk adat dan peristiwa-peristiwa yang bersangkaut paut dengan klen. Tokoh klen serupa itu di sebut moncol. Klen tersebut tidak mempunyai peraturan tertulis, akan tetapi mempunya silsilah/babad. Ditingkat desa ada kesatuan-kesatuan administratif yang disebut perbekelan. Suatu perbekelan yang sebenarnya merupakan warisan dari pemerintah Belanda, diletakkan diatas kesatuan-kesatuan adat yang asli di Bali, seperti desa adat dan banjar. Maka terdapatlah gabungan-gabungan dari banjar dan desa ke dalam suatu perbekelan yang dipimpin oleh perbekel atau bendesa yang secara administratif bertanggung jawab terhadap atasannya yaitu camat, dan seterusnya camat bertanggung jawab kepada bupati.

 

SEJARAH PANDE

Di luar bali wangsa Pande itu lebih berarti profesi saja, tidak ada kaitannya satu dengan lainnya. Tidak ada prasasti yang mengikat atau kewajiban moril dan rituil seperti yang ada di Bali. Di Bali Wangsa Pande diikat dengan prasasti-prasasti dan Wimamsa-wimamsa leluhur dan secara rohaniah berhubungan sangat erat antara keluarga satu dengan keluarga lainnya dibawah istilah wangsa.

Salah satu Prasasti yang sangat terkenal disebut “Pustaka Bang Tawang” sedangkan tempat penyiwiannya disebut Gedong Sinapa atau Batur Kemulan Kesuhunan Kidul. Pustaka Bang Tawang mengandung ajaran Kawikon, Kawisesan dan ajaran Tantang Raja Parana Dewa Tatwa dan Pamurtining Aksara (ilmu sastra) yang juga termuat sebagai dasar dari segala dasar ajaran sastra.

Yang terpenting tidak dimiliki oleh ajaran-ajaran sekte lainnya adalah ajaran “Aji Pande Wesi” merupakan ilmu unggulan yang dimiliki oleh aliran Wangsa Paandie. Dilihat dari prasasti dan dewa yang dipuja puji jelaslah bahwa wangsa Paandie ini dahulunya menganut sekte brahmana. Sedangkan kiblat pemujaannya berada di Kidul “kasuhunan kidul selatan” tempat berstananya Dewa Brahmana menurut Tatwa Dewa Nawa Sanga. Ajaran Pande Wesi inilah nantinya akan melahirkan istilah Aji Paandie.

Selain ilmu unggulan “Aji Pande Wesi”, Prasasti tersebut juga memuat ajaran Pemurtining Aksara (kesusastraan) seperti Aksara Dewa, Dasaksara, Pancaksara, Panca Brahma, Aksara Permuting bumi (ilmu tentang terjadinya alam semesta), Panca Bayu dan lainnya. Semua ajaran diatas kemudian dikenal sebagai “Aji Panca Bayu”.

Aji Panca Bayu merupakan bagian dari ajaran Panca Brahma Pancaksara yang berakar dari Aji Dasaksara Pamurtining, Aksara Anacaka sastra kesusastraan.
Aji Ngaran Sastra, Saka Ngaran Tiang Ngaran Pokok (ngaran = bermakna) yang secara umum mengandung pengertian yaitu Sumber dari ajaran sastra Kesusastraan. Sastra ngaran tastas, ngaran terang benderang. Astra ngaran api ngaran sinar
(dengan mengenal api orang akan mengenal terang, sebaliknya orang yang tidak mengenal sastra sama dengan buta huruf berarti hidup dalam kegelapan)

Demikian penjelasan Tatwa Aksara (filsafat aksara) yang tercantum di dalam Aji Saraswati, yang berarti tak terbatas sari patinya. Mengenai ajaran Aji Panca Bayu yang melahirkan istilah Paandie dijelaskan sebagai berikut :

Dalam ajaran Aji Panca Bayu memuat lima ajaran inti tentang Panca Cakra atau Panca Bayu yang kemudian disebut Panca Prana. Ajaran ini sangat dirahasiakan dan hanya boleh diberikan kepada penganut sekte brahmana. Panca Bayu atau Panca Cakra itu meliputi :

1. Prana Mantram : sumber dari segala sumber kekuatan cakra bertempat di Papusuhan atau pada jantung, keluar melalui hidung berfungsi sebagai hembusan
2. Apana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada pori pori seluruh tubuh, keluar menjadi air disebut Palungan (sumber air)
3. Sabana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada hati, keluar menjadi api melalui mata kanan
4. Udana Mantram : kekuatan bersumber pada ubun-ubun keluar menjadi garam (inti Baja)
5. Byana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada tiga persendian utama yaitu paha, tangan dan jari.

Cakram Mantram mengalir kepada paha menjadi kekuatan tanpa tanding, tahan api yang menyebabkan paha menjadi keras dan berfungsi sebagai landasan. Cakram Mantram mengalir ke tangan menyebabkan seluruh tangan menjadi kuat dan keras, tahan api, berfungsi sebagai palu. Cakram Mantram mengalir keseluruh jari jari tangan membuat jari menjadi tahan api, berfungsi sebagai penjepit atau sepit.

Dari ketiga sumber kekuatan inilah lalu melahirkan istilah Paandie yang kronologinya sebagai berikut :

Pa ngaran paha
An ngaran tangan
Die ngaran jeriji

Penyatuan Ketiga aksara menjadi Paandie dan selanjutnya ajaran tersebut diberi nama “Sundari Bungkah Sundari Nerus” sedangkan pustakanya disebut Pustaka Bang Tawang.

Bagi mereka yang memasuki dan memperdalam Aji Kawikon disebut Brahma Paandie, bagi mereka yang memperdalam Aji Kewisesan Satria disebut Arya Kepaandian” arya dalam bahasa jawa sama dengan Kesatria, sama dengan Gusti dalam singgih Bali. Selanjutnya bagi mereka yang menganut aliran Brahma ini disebut Wamsa Paandie atau lebih poluler disebut Wamsa Paandie, sedangkan tempat pemujaan pustakanya disebut Gedong Sinapa atau Gedong Batur Kemulan Kasuhun Kidul.

Pande yang dimaksud disini pande dalam arti keturunan (clan), soroh dari seseorang yang dahulu leluhurnya mempunyai propesi sebagai ”memande” apakah memande itu membuat alat dari logam berupa perunggu ( gong, alat-alat keagamaan dan lain-lain), berupa besi ( cangkul pisau tombak keris dan lain-lain), berupa emas perak ( perhiasan, alat-alat keagamaan dan lain-lain) semua dapat digolongkan dalam istilah anggtandring dan angaluh. Memande adalah suatu pekerjaan yang hasilnya sangat diperlukan oleh seluluh lapisan masyarakat. Memande dan berdagang memang sudah digeluti oleh para pande sejak dahulu

Dasarnya warga pande tinggal disuatu tempat degan berkelompok. Tetapi begitu ditempat baru ( Desa yang membutuhkannya) mereka memecah diri untuk mengisi pande ditempat beru tersebut tetapi ikatan kekerabatan/leluhur menyatukan kembali mereka dalam adat keagamaan terutama pada hari raya tumpek landep.

Pande Yang Ada Di Nusantara

Untuk menelusuri lebih jauh asal usul warga pande dimasa lalau kita berpedoman pada pembuktian archeologi yang menyangkut alat-alat yang dipakai manusia di masa lalu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah zaman batu yang disebut zaman neolithicum berakhir maka selanjutnya timbut zaman logam. Jaman ini dicirikan ditemukannya saat itu suatu bahan dari dalam tanah bijih logam yang diproses sedemikian rupa lalu mengasilkan barang-barang atau alat-alat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Zaman logam dibagi menjadi tiga zaman yaitu zaman tembaga, zaman prunggu, zaman besi.

Pada zaman dahulu kaum pande diangap/digolongkan sebagai masyarakat tersendiri yang memiliki teknik dan kemampuan khusus sehinga banyak yang bergelar empu. Zaman dahulu hanya warga pande yang bisa membuat alat/barang dari logam sehinga keberadaan warga pande sezaman dengan mulainya zaman logam. Kapan zaman logam itu ada pada saat itulah ada kaum pande.

Menurut Dr. R Soekmono dalam bukunya yang berjudul ”sejarah kebudayaan Indonesia I ” menyatakan kebudayaan logam itu berasal dari luar Asia Tenggara. Berarti bila kaum pande memakai sistim keturunan purusa maka dapat dipastikan kaum warga pande berasal dari luar Asia Tenggara. Mereka berasal dari satu keluarga yang menemukan teknik pengolahan logam menjadi alat-alat keperluan manusia  lalu seluruh keluarganya turun temurun menjadi pande. Kebudayaan logam di Indonesia memang termasuk satu golongan dengan kebudayaan logam Asia yang berpusat di Dongson.

Kaum pande yang berpropesi mengolah logam tersebut sebelum menyebar di bumi Nusantara. Mereka sebagain besar mereka bermukim di Dongson ( Teluk Tongkin) memande alat-alat yang bahannya dari perunggu maupun dari besi. Mereka bermukim di Dongson ini mulai kurang lebih 300 tahun SM. Jadi pande yang bermukim di Teluk Tongkin adalah cikal bakal pande yang datang kenusantara kemudian. Mereka berasal dari satu keluarga yang kemudian berkembang menjadi clan pande. Perpindahan mereka ke Nusantara adalah pada zaman perunggu ± 2500 tahun SM bersama dengan kelompok penduduk lain yang lebih besar.

Warga Pande Di Bali

Kedatangan para pande di Bali seiring kedatangan para penguasa yang datang dari seberang/luar pulau Bali. Sejarah menyatakan bahwa pada abad-abad VII-VIII M di Bali dikuasai oleh raja-raja dari dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram (Jawa Tengah). Tetapi jauh sebelum itu pengingalan-peningalan arkeologi membuktikan di pulau Bali dihuni oleh para pande yang hidup dalam masyarakat pada zaman itu (zaman Bali mula).

Pada zaman prasejarah di Bali masyarakat mengeal peti dari batu yang bernama sarkopagus yang digunakan untuk menyimpan mayat orang yang semasa hidupnya yang sangat berpengaruh. Ini membuktikan bahwa alat-alat yang dipakai untuk membuat sarkopagus tersebut adalah buatan para pande yang telah menghuni pulau bali pada zaman prasejarah yaitu pada zaman pra Hindu.

Desa Trunyan Kintamani sebagai desa tua yang keberadaanya diyakini paling tua di Bali telah hidup pada zaman megalitik yaitu jauh sebelum masehi dan juah sebelum kedatangan Hindu di Bali mereka memiliki kepercayaan bahwa Dewa tertinggi mereka bernama Ratu Sakti Pancering jagat juga disebut Da Tonta. Dewa ini bukan dewa dalam agama Hindu, beliau adalah leluhur/kawitan orang Desa Trunyan yang paling dimulikan. Di Pura tempat Da Tonta disemayamkan pada sebuah pelingih yang disebut Pura Dewa Pande. Rupaya pada zaman pra Hindu telah ada para pande di Desa Trunyan meskipun sekarang ini  di Desa Trunyan tidak ada warga pandenya lagi (Nyoman Wista Darmada (pande Nongan) dan Made Gede Sutama (Pande Celuk), 1996: 17).

Sekitar awal abad VI Masehi telah datang ke Bali Rsi Markandea penyebar agama Hindu yang membawa sejumalah pekerja. Beliau juga membawa warga pande dari Jawa. Para warga pande yang dibawa oleh Rsi Markandeya kemudian bermukim disekirtar daerah Desa Taro. Sekitar Danau Batur, Danau Tamblingan dan Besakih ( zaman Bali Age). Kemudian pada abad VI Masehi datang lagi ke Bali salah seorang  agama Hindu bernama Sri Agni Jaya Sakti salah seorang pengikut Sang Aji Saka. Beliau beraliran Brahmana dan kedatangannya ke Bali bersama-sama pendeta Siwa dan Budha.

Ajaran agama Hindu yang diajarkan oleh Sri Angi Jaya Sakti mengajarkan agama kepada masyarakat sekitar adalah agama Hindu yang beraliran Brahmana. Ajaran – ajaran beliau antara lain terntang:

a)      Prihal membuat senjata yaitu tombak keris dan mantram-mantramnya

b)      Prihal memilih baik buruknya senjata tombak dam keris yang disebut ”carcaning keris”.

c)      Prihal pakaian perang serta mantram-mantramnya serta tulisan-tulisan yang diangap bertuah.

d)     Prihal siasat perang.

Dari keempat ajaran tersebut diatas yang dibawa Sri Angi Jaya Sakti . ajaran pertama dan ke dua sangat berkaiatan dengan keahlian/propesi pande. Hanya pande yang memiliki mantram dalam pembuatan senjata dan hanya pande yang mengerti dan menghayati carcaning keris. Ajaran ketiga dan keempat sangat terkait dengan ajaran pertama dan kedua dimana dihendaki peningkatan persepsi tentang cara mempermainkan perang sebagai seorang prajurit atau pengatur siasat perang dari seorang pande. Tidak salah cerita orang terdahulu bahwa warga pande selau berada dimuka sebagai pemuka dalam peperangan karena dia tahu siasat menghayati arti pusaka degan segala isinya (pasupatii).`

Pande Bang

Pada zaman ini para pande yang datangnya bersama Sri Kesari Warmadewa berasal dari Indonesia berdiam berkelompok di empat tempat. Yaitu:

  1. kelompok pande yang berdiam di daerah Besakih dan sekitarnya.
  2. kelompok pande yang berdiam disekitar daerah Renon (badung) dan sekitarnya.
  3. kelompok pande yang mendiami pingiran Danau Tamblingan.
  4. kelompok pande yang tingal dipejeng.

Dari keempat tempat pande yang bermukim di Danau Tamblingan mendapat perlakuan istimewa karena jenis barang yang mereka hasilkan bersifat istimewa serta skill/kepandaiannya yang mereka sangal unggul. Ada keistimewaan lain pada mereka yaitu mereka dibebaskan dari segala pajak yang mestiya harus dibayar oleh penduduk.

Terpecahnya warga pande yang bermukim  di Danau tamblingan karena pada saat itu Raja Sri Tapolung yang bergelar ”Bhatara Cri Asta Asura Ratna Bumi Banten” menyatakan dirinya tidak lagi tunduk kepada kekuasaan Raja Jawa ( Majapahit ). Sehingga raja majapahit menghukum atas sikapnya, Raja Majapahit Sri Hayam Wuruk mengirim pasukan untuk menyerang Bali. Sasaran utamanya adalah warga Pande yang ada di Danau Tamblingan karena diangap senjata-senjata penguasa Sri Tapolung berada di daerah ini. Penduduk lainnya yang berada dipingiran Danau Tamblingan ikut melahirkan diri dan kebanyakan dari mereka menyembuyikan diri ke hutan sebelah barat danau (daerah Gobleg).

Penguasa Bali kemudian setelah Sri Tapolung yaitu Dalem Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) yang memerintah Bali dari istananya di Gelgel merasa perlu untuk memanggil kembali para pande yang telah lari meningalkan danau Tamblingan agar kembali ke asalnya.

Demikianlah keadaan dari keempat kelompok pande Bang pada zaman Sri Kesari Warmadewa sampai zaman Pejeng. Keempat kelompok yang mengikuti Sri Kesari Warmadewa tersebut dinamakan pande bang termasuk didalam Pande Bangke Maong, alias Pande Tamblingan. Ada dolemik dalam masyarakat Bali setelah kehancuran kerajaan pejeng tentang nama Pande Bangke Maong. Julukan ini diberikan kepada kelompok pande yang kalah perang bahwa mereka mati nantinya mayatnya akan menjadi maong.

Demikian bencinya para penguasa baru kepada para pande sehinga nama Pande Bangke Maong menjadi momok/menakutkan bagi seluluh keluarga pande dan mereka menghindari dirinya disebut Pande Bangke maong. Penguasa akan membunuh pande yang benar-benar adalah keturunan Pande bangke Maong. Kemudian muncul semacam sanggahan halus dari para pande yang menyatakan bahwa pengucapan Pande Bangke Maong sebenarnya adalah Pande Bang Kemaong (pande bang saja).

Pande Pada Zaman Gelgel

Pada zaman Gelgel tersebut kedatangan warga pande ke Bali itu merupakan prajurit-prajurut dari majapahit yang bukan orang sembarangan seperti Empu Brahma Wisesa dan Empu Lelumang. Beliau orang-orang tersohor kesaktiannya serta mempunyai hubungan dekat dengan raja Majapahit. Dengan adanya ikatan kembali dengan raja Majapahit raja Dalem Semara Kepakisan saja Bali yang bertahta di Gelgel mulai mendapat simpati rakyat Bali agar tidak mengadakan pemberontakan dikemudian hari. Sebelumnya telah menjadi pemberontokan yaitu pemeberontakan Takawa tahun 1345 dan pemberontakan Makambika tauhun 1347( keduanya keluarga raja Pejeng). Sehinga mengambil keputusan oleh Dalem Semara Kepakisan sebagai berikut:

a)      Pura Besakih dijadiakn Pura kerajaan pusat seluruh Bali.

b)      Pura Dasar di Gelgel ditingkatkan statusnya menjadi Pura Kekerajaan yang sama statusnya dengan Pura Pusering Jagat pada zaman kerajaan Bedahulu.

c)      Kaum Pasek Bendesa turunan Bali asli memegang kekuasaan di tiap-tiap daerah dan kahyangan menjadi pembesar atau tabeng puri

d)     Kauam Pande (turunan Bali asli) yang mahir dalam pembuatan senjata menjadikan pembesar dan mengepalai alat-alat besi.

Para pande juga akan pindah ke tempat atau Desa baru yang belum ada pandenya. kadang-kadang atas kehendak mereka sendiri atau atas perintah penguasa. Demikian seterusnya sehinga akhirnya sukar bagai kita membedakan pertalian anatra pande-pande yang berbeda masa kedatangannya ke Bali.

Diceritakan dalam prasasti/babad bagaimana situasai kondisi pada saat pemerintahan Dalem Bekung semua penduduk kota kerajaan Gegel terpecah belah terutama keturuanan Majapahit. Akibat keikutsertaan para pande di Klungkung memberontak pada Raja akhirnya Pura Dalem Tusan ( Pura Pande yang dibuatkan Dalem Gelgel untuk Sentana Sire Tusan) lama tidak terurus, para pande tidak berani ngaturang piodalan karena situasi kerajaan yang sangat genting. Sewaktu-waktu para pande dapat terbunuh ketika akan ke Pura  atau bisa sewaktu sehabis sembahyang.

Masalah  warga pande ketika Ida Dalem berada dalam liputan Ida Sang Hyang Sengara (penasehatnya). pada saat itu juga Sire Pande seluruhnya baik, besar, kecil, tua, muda biar bayi sekalipun ikut dibunuh. Sunguh amat teragisnya tidak keprimanusiaan tetapi Tuhan tidaklah membiarkan umatnya dibegitukan, maka ada satu orang pande yang berada di bawah menguasaan Ida Sang Hyang Ibu yang disembunyikan Oleh Djangga Wadita di bawah air terjun ( bantang matiyem).