Soroh Pande : wargapande.org

Warga Pande Bali Community

June - 23 - 2011
Pande Pada Jaman Bali Kuno

Kelompok atau komunitas Pande di Bali telah jelas eksistensinya sebelum jaman Bali Kuno, tetapi mereka tidak membentuk klan atau warga ataupun soroh seperti pada jaman Bali Madya, yang meliputi kurun waktu abad XIII s/d abad XIV. Jaman Bali Madya berakhir dengan jatuhnya kekuasaan kerajaan yang terpusat di gelgel sebagai akibat pembrontakan Patih Agung Maruti pada tahun 1685 M.
Kendatipun belum terhimpun dalam warga atau soroh, pekerjaan memande dikerjakan secara turun temurun oleh Pande saja. Mereka pada umumnya mendapatkan perlakuan istimewa dari para raja, misalnya dibebaskan dari beberapa jenis pajak, karena kemuliaan hasil karya mereka yang sangat diperlukan oleh raja dan seluruh masyarakat.
Profesi memande dan komunitas Pande telah muncul dalam: 1. Prasasti Trunyan A1, bertahun 813 S (Saka). Selanjutnya keberadaan komunitas Pande bertebaran jumlahnya pada berbagai prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja yang berlainan dalam kurun waktu yang membentang selama tiga abad pemerintahan raja-raja Bali Kuno, seperti yang termuat dalam beberapa prasati, antara lain dalam: Prasasti bebetin AI, tahun 818 S, Prasasti Trunyan B, tahun 833 S, Prasasti Pengotan AI, tahun 847 S, Prasasti Batuaya, tahun 855 S, Prasasti Sembiran AII, tahun 897 S, Prasasti Buahan A, tahun 916 S, Prasasti Batuan, tahun 944 S, Prasasti Bulian A, tahun 1103 S, Prasasti Kehen C, tahun 1126 S, Prasasti Tamblingan A, tahun 1306 S, Prasasti Tuluk Biyu, tahun 1306 S, Prasasti Tamblingan B, tahun 1320 S.
Dalam Prasasti yang di Pura Endek di tepi danau Tamblingan yang ditemukan pada tahun 2002 yang lalu, tersebut pula bukti-bukti eksistensi Pande di Bali, yang melengkapi bukti-bukti historis yang telah kemukakan diatas.

Bahwa wilayah sekitar Danau Tamblingan memang merupakan wilayah komunitas Pande pada jaman Bali Kuno, telah lama dikenal oleh para arkeologi dan pakar sejarah Bali Kuno. Misalnya sarjana yang sangat terkenal P.V. Van Stein Callenfels sudah pada tahun 1925 menerbitkan hasil penelitiannya mengenai Pande Tamblingan yang secara khusus dibahas pada bukunya yang berjudul “Epigrafi Balica”.
Banyak peninggalan berupa prabot untuk memande dan kerak-kerak besi yang diketemukan berserakan di kawasan Tamblingan yang membuktikan bahwa kawasan itu adalah bekas pemukiman Pande pada jaman Bali Kuno. Banyaknya palungan pendingin yang berserakan dikawasan itu, makin memperkuat bukti bahwa kawaasan itu adalah pusat pembuatan senjata seperti keris, tombak, alat-alat kesenian, gamelan, alat-alat pertanian, alat-alat dapur dan sarana-sarana untuk keperluan upacara agama Hindu.

Di kawasan danau Bratan juga banyak diketemukan peninggalan berupa prabot memande, seperti palungan pendingin dan pengububan serta alat-alat memande lainnya. Penemuan itu sekarang disimpan dan dikeramatkan di Pura Bratan, di tepi danau Bratan.
Oleh karena itu tidaklah terlalu mengherankan adanya penemuan 16 bilah prasasti di kawasan Tamblingan pada tahun 2002 yang lalu. Kemungkinan besar masih banyak peninggalan-peninggalan lainnya yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan oleh para Pande, dengan menanamnya dikedalaman tertentu atau ditenggelamkan ke dalam danau Tamblingan atau disembunyikan di tempat yang sangat sulit ditemukan oleh lawan. Prasasti Langgahan, satu-satunya prasasti dari Raja Asta Sura Ratna bumi Banten pada jaman dulu juga disembunyikan oleh pengemong pura dengan cara menanamnya dalam-dalam dibawah tanah agar selamat dari penjarahan atau penghancuran dari tentara Majapahit.
Timbul pertanyaan mengapa Pande Tamblingan perlu menyembunyikan prasasti-prasasti itu? Apakah tujuannya Dapat diduga tujuannya adalah agar prasasti-prasasti dan benda-benda lainnya selamat dan tidak dijarah atau dimusnahkan oleh musuh. Mereka mengharap kelak apabila situasi kondusif lagi dan mereka bisa kembali dari pengungsiannya, mereka dapat mencari lagi alat-alat memande yang mereka sembunyikan. Dan siapakah yang dimaksud dengan musuh itu?.

Sebelum menjawab pertanyaan itu marilah kita bahas terlebih dahulu mengenai penemuan 16 bilah prasasti di Tamblingan, karena jawaban atas berbagai pertanyaan diatas tersirat dalam prasasti yang ditemukan. Pembahasannya pada Pande Tamblingan berikutnya.

Penemuan Prasasti di Kawasan Tamblingan

Prasasti itu ditemukan secara kebetulan pada tanggal 26 September 2002, pada waktu warga setempat menggali tanah dalam rangka perbaikan Pura Endek, prasasti itu terseimpan rapi dalam sebuah guci yang diperkirakan berasal dari Vietnam yang berukuran tinggi 90 cm dan ditemukan dalam kedalaman 75 cm dari permukaan tanah.
Setelah diteliti ternyata prasasti yang ditemukan itu dikeluarkan oleh tiga orang Raja Bali Kuno, dari kurun waktu yang berbeda, yaitu oleh Raja Ugrasena, Raja Udayana dan Raja Suradipha.
Keberadaan Pande dan hasil karya mereka terdapat dalam semua prasasti yang ditemukan itu. Dalam prasasti yang dkeluarkan oleh Raja Ugrasena disebutkan bahwa Pande Tamblingan sudah bisa membuat baju besi (baju zirah), yang tentu saja mempertinggi kualitas perkakas perang tentara raja-raja Bali. Dlaam Prasasti yang diterbitkan oleh Raja Udayana dan prasati yang diterbitkan oleh Raja Suradipha ada uraian mengenai kelompok yang dikenal dengan sebutan ’papilihan mas’ dan ’pwasi”. Tentu saja tidak bisa dibantah bahwa orang-oang yang membuat bilah-bilah tembaga untuk prasasti itu adalah Pande besi, demikian pula dalam prasasti itu ada disinggung keberadaan Gambelan ’Selonding’ yang sudah pasti adalah merupakan hasil karya para Pande. Dalam prasasti itu disebutkan para Pande dan para penabuh gambelan selonding dibebaskan dari pengenaan pajak.
Kawasan Tambilangan dihancur leburkan oleh Arya Cengceng
Sekarang marilah kita kembali pada pertanyaan yang telah dikemukakan diatas. Pertanyaannya adalah mengapa Pande Tamblingan menyembunyikan prasasti-prasasti dan perabot-perabot memande lainnya dan mengapa mereka pergi mengungsi menyelamatkan diri dengan mennggalkan kampung halamannya.
Dalam tulisan Adnyana Ole mengenai penemuan bilah-bilah prasasti Tamblingan itu, yang dimuat dalam Balipost edisi 5 Oktober 2002, yang berjudul ’Menelusuri Jejak masa Lalu Disisi Danau Tamblingan’, kepergian orang Tamblingan meninggalkan wilayahnya entah kemana, dipertanyakan juga, sebagaimana dikemukan dalam penutup tulisannya sebagai berikut:
”Peneliti itu belum juga mengetahui penyebab masyarakat itu meninggalkan wilayah Tamblingan, apakah karena bencana alam atau daerah itu memang ditinggalkan dengan sengaja. Jika ditinggalkan dengan sengaja, pertanyaan berikutnya, kemana mereka pergi? Jawabannya bisa diperoleh beso, bisa juga satu abad mendatang, karena proses penelitian bukanlah proses sekali jadi.”
Kita tidak perlu menunggu jawabannya satu abad yang akan datang. Dan juga tidak perlu menduga kepergian mereka karena bencana alam. Yang jelas mereka tidak meninggalkan wilayahnya dengan sukarela atau karena bencana alam, tetapi karena serangan yang hebat yang menghancur-leburkan wilayah mereka secara mendadak oleh tentara Majapahit, yang bertujuan menghacur-leburkan kawasan Tamblingan yang merupakan sentra industri senjata raja-raja Bali, dan sekaligus menghabisi keberadaan Pande Tamblingan yang merupakan kelompok yang menjadi biang kekuatan persenjataan tentara Bali.
Penyerbuan tentara Majapahit ke Tamblingan itu sangat mungkin dilakukan dibawah pimpinan salah seorang panglima perang Majapahit yang ikut dalam invasi penaklukan Bali, karena raja Bali; Asta Sura Ratna Bumi Banten, tidak mau tunduk kepada hegemoni Majapahit. Nama panglima perang yang ditugaskan memimpin serangan mendadak itu adalah Arya Cengceng.
Warga Pande yang masih hidup terpaksa mengungsi ke wilayah-wilayah lainnya yang aman dari jangkauan tentara Majapahit, dengan terlebih dahulu menyembunyikan prasasti-prasasti dan benda-benda lainnya yang tidak mungkin mereka bawa mengungsi. Pande Tamblingan yang merantau itu kemudian terkenal dengan sebutan ”PANDE BANGKE MAONG” dalam babad-babad Pande.
Mengapa mereka terkenal dengan sebutan Pande Bangke Maong? Ada dua versi jawabannya mengenai hal itu. Mereka disebut Pande Bangke Maong, disebabkan oleh meranen atau berbisanya senjata perang yang mereka buat. Orang yang terkena tikaman atau tersentuh saja oleh senjata bikinan mereka, konon segera mati dan mayatnya mendadak menjadi maong, kusam warnanya, berwarna kotor dan seketika bercendawan. Versi yang lain, menyatakan bahwa kata Pande Bangke Maong merupakan plesetan dari kata-kata Pande Bang Kemawon yang berarti ”Pande Merah Saja’ warna khas Pande, karena merah adalah warna Bhatara Brahma, junjungan warga Pande. Dengan istilah Pande Bang Kemawon mereka ingin menunjukkan jati diri mereka sebagai penyembah Brahma.
Sekarang marilah kita ke masalah yang sangat penting, untuk menjawab mengapa Pande Tamblingan meninggalkan daerahnya dan pergi mengungsi menyelamatkan diri ke tempat-tempat yang aman. Jawabannya adalah karena strategi perang yang dilancarkan oleh Gajah Mada dengan menghancur leburkan terlebih dahulu pusat industri senjata raja Bali, sebelum melakukan serangan frontal ke seluruh Bali. Mengapa justru wilayah Tamblingan yang dijadikan sasarang? Karena sebagai ahli strategi yang ulung, Gajah Mada melalui laporan mata-matanya, tahu betul bahwa kawasan Tamblingan adalah kawasan Pande yang sangat terkenal, dan merupakan pusat pembuatan senjata bagi raja-raja Bali sejak dulu. Kemahiran mereka yang telah mampu membuat baju besi dan mampu membikin senjata yang beracun atau berbisa, tentu merupakan keunggulan Bali dan demi memenangkan perang, pusat pembuatan senjata itulah yang harus dilumpuhkan terlebih dulu dengan sekaligus menumpas habis Pande Tamblingan yang tersohor piawai membuat alat-alat perang.
Yang ditugaskan memimpin penghancuran itu adalah Arya Cengceng yang berhasil melaksanakan tugasnya dengan gilang gemilang. Setelah Bali berhasil dijajah oleh Majapahit, dan Raja yang ditempatkan di Bali tidak mempunyai lagi Pande yang punya keahlian seperti Pande Tamblingan, karena mereka banyak yang terbunuh dan sisanya menyelamatkan diri mengungsi ke tempat-tempat yang aman, timbulah masalah baru, apa yang harus dilakukan agar Pande Tamblingan yang masih hidup yang mengungsi entah kemana, bisa dibujuk agar mau pulang kembali ke Tamblingan, membangun kembali pusat pembuatan senjata, dengan memberi jaminan keselamatan penuh dari raja bagi Pande yang mau kembali ke Tamblingan.

Pande Tamblingan Tidak Mau Kembali

Tugas itu diberikan kepada Mantri Ularan dan para Upapati (pembesar) lainnya untuk membujuk agar Pande Tamblingan yang masih hidup mau kembali ke wilayahnya semula. Ternyata usaha itu gagal total, karena Pande Tamblingan tetap curiga dan takut kalau-kalau mereka diperdaya, dijebak, dan kemudian dihabisi seperti yang dialami rekan-rekannya. Oleh karena itu mereka tidak mau kembali ke wilayah asalnya di Tamblingan, apalagi yang memimpin pemulangan itu adalah orang-orang ganas yang menghancur leburkan wilayah mereka dan yang membunuh rekan-rekan mereka.
Untuk itu dikeluarkanlah prasasti oleh raja Prameswara, seorang raja dari Wngker, paman dari raja Hayam Wuruk, yang ditunjuk oleh Gajah Mada sebagai Kontrolir Bali, yang bertugas selain membantu sekaligus memata-matai Raja Bali yang memerintah Bali atas nama Majapahit.
Berikut adalah transkripsi prasasti dimaksud:
”Iku surat ingong katka bahang para mantri ularan samadya, maka nguni hupatiti, hinar plahangan, deninya Pande wesi ring Tamblingan ira ana muliha mareng Tamblingan manih para mantri mahangantra makna Arya Cengceng tayo sidi gawe kang kasujiwaing Tamblingan, lawanhire hane Arya Cengceng lung ta ya ri Tamblingan hanerahin Lwa Gajah apan ingong huwushawehengwonana Arya Cengceng lawan dening pangraga sekarekan kasijiwaning Tamblingan hingong ajegaken satak salawang nengken kawolu kang atura prenalas, dening panakraning desa, ira hane malrahidepa hing rama ning Tamblingan, unusan, Pangi, Kdu, Tngah Mel. Tithi ka-3, Isaka 1306”
Terjemahan bebasnya: ”Demikianlah suratku kepada para Menteri di Ularan semuanya, terutamanya kepada Hupapati, mengenai para Pande Besi di Tamblingan, supaya mereka diupayakan kembali ke Tamblingan. Para Mantri hendaknya menjaga keselamatan mereka dengan mengawal kepulangan mereka ke Tamblingan dan Arya Cengceng janganlah mengganggu ketentraman penduduk di Tamblingan, dan Arya Cengceng supaya pergi dari Tamblingan, dan pindah bertempat tinggal di Lwa Gajah (Goa Gajah) karena aku telah membagi tempat tinggal Arya Cengceng dan mengenakan iuran (pangraga sekar) untuk ketentraman desa dan penduduk Tamblingan , yang aku tetapkan sebesar 200 bagi setiap rumah (KK) dan agar iuran itu dibayar setiap sasih kawulu (sekitar bulan Pebruari). Hendaknya semua penduduk lebih menjaga semua hutan dikawasan Tamblingan, Unusan, Pangi, Kedu, Tengah Mel. Dikeluarkan tanggal 3, Saka 1306 (1384 M).
Dari perintah raja agar Arya Cengceng tidak mengganggu penduduk Tamblingan dan dengan tegas memerintahkan agar dia pergi dari wilayah Tamblingan dan menetap di Lwa Gajah, terlihat betapa kejam tingkah lakunya pada wkatu menghancurkan wilayah Tamblingan dan menyiksa rakyat yang masih hidup. Kendatipun ada jaminan bahwa penduduk dan Pande Tamblingan dijamin keamanannya sampai mereka tiba dengan selamat di wilayahnya semula, karena para menteri diperintahkan dengan tegas agar mereka mengantar dan menjaga keselamatan para Pande itu, toh tidak ada warga Pande yang mau kembali ke wilayahnya semula. Dengan demikian upaya pemulangan itu gagal total.
Karena prasasti pertama tidak mencapai hasil alias gagal total, dan karena begitu pentingnya peranan Pande Tamblingan bagi kekuatan pertahanan kerajaan, raja menerbitkan prasasti baru, 14 tahun setelah keluarnya prasasti pertama. Prasasti ini dikeluarkan tahun Saka 1320/1398 M, yang isinya mengulangi perintah yang termuat dalam prasasti pertama. Transkripsi prasasti yang kedua berbunyi sebagai berikut :
”Iku weruhane kang para mantring Ularan samadaya, makanguni hupapatti, hangarep lawangan, yen andikanikingong, magehaken indikanira, talampakanira Paduka Bhatara Sri Prameswara, sira sang mokkta ring wisnubhawana, dening kang apande esi ring Tamblingan, irahana muliha mareng Tamblingan manih, paramantri ta hangantramakna, Arya Cengceng tayo sidigawe kang kasujiwaning Tamblingan, lawan Arya Cengceng irehana lunga hasaking Tamblinganhangereng Lo Gajah, lawan dening pangraga skarekang kasujiwana ring Tamblingan, inging anajenengaken satak ring salawang nangken kawolu, dening panarakan ing desa irehane hahidepa ring Tamblingan, Unusanm, Pangi, Kdu, Tngah Mel, kang rajamudra yen uwus kawaca kagugona dene kang apande wsi ring Tamblingan. Tithi ka 10, Isaka 1320”.
Terjemahan bebasnya: Inilah perintahku yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh para Menteri di Ularan, terutama oleh para upapati diseluruh wilayah, karena aku ingin menegakkan perintah raja terdahulu yaitu raja Prameswara yang telah berpulang ke Wisnuloka (mangkat) agar perintah terdahulu yang bertujuan memulangkan Pande Besi ke Tamblingan. Tetap diupayakan. Para pembesar (upapati) harus menjamin keselamatan mereka dengan mengawal kepulangan mereka. Arya Cengceng tidak boleh mengganggu penduduk Tamblingan. Dia harus tetap tinggal di Lwa Gajah. Untuk menghimpun dana guna mengurangi penderitaan penduduk Tamblingan aku memerintahkan pemunggutan upeti sebesar 200 pada tiap-tiap KK, yang harus dibayar setiap bulan kawulu (sekitar Pebruari) oleh penduduk Tamblingan, unusan, Pangi, Kedu, Tengah mel. Demikianlah rajamudra-ku (perintah), dan setelah dibaca harus dilaksanakan oleh Pande Besi di Tamblingan. Ditetapkan pada sasih Kadasa (sekitar bulan april) tahun Isaka 1320 (1398 M).
Tugas pemulangan Pande Tamblingan tahap kedua inipun gagal total juga. Apa buktinya? Buktinya jelas sekali, karena sampai sekarang keturunan Pande Tamblingan tidak ada yang menetap di Tamblingan. Mereka nyineb raga, menyembunyikan jati diri Pande-nya atau sembunyi-sembunyi bergabung dengan Pande yang datang kemudian ke Bali setelah jatuhnya Majapahit.

Sumber :
PANDE TAMBLINGAN
Tirtha Yatra Napak Tilas Pande Jaman Bali Kuno
Sebagai bekal peserta tirtha yatra ke Situs Pande Tamblingan tanggal 16 Agustus 2004
Oleh:
Made Kembar Kerepun (alm)

Source : http://wargapande.blogspot.com